(Review) Avengers: Infinity War

1 comment
Cerita: 9 | Penokohan: 8 | Visual: 9 | Sound Effect/Scoring: 9 | Penyutradaraan: 9 | Nilai Akhir: 4.6 out of 5 (Highly Recommended)




Lo yang ngaku penggemar Marvel pasti ngerasa antusias abis pas tahu ada rencana film Avengers: Infinity War. Apalagi, hingga perilisan filmnya, Marvel seakan enggak ngasih kendor soal promosinya. Enggak hanya penggemar asli, orang-orang yang enggak pernah tahu soal superhero MCU pun jadi mendadak ke-Marvel-an.




Kalau lo penggemar akut Marvel, udah dipastikan rasanya kayak nungguin jawaban dari semua harapan. Penasaran, deg-degan, dan campur aduk saking excited-nya. Bahkan, hingga terbersit pertanyaan, “Bagaimana kalau filmnya mengecewakan, ya?” Lo pun enggak bisa membayangkan dengan film yang budgetnya aja hampir 400 juta Dollar.


Jawabannya bisa lo nilai sendiri pas nonton filmnya. Avengers: Infinity War bukan hanya jadi film terbesar Marvel, tapi juga jadi film superhero paling magnificient sepanjang sejarah. Lo boleh bilang ini berlebihan. Nyatanya, film ini memang enggak ada duanya.


Avengers: Infinity War menceritakan soal pertempuran besar antara kekuatan jahat kosmis dengan ensemble superhero Marvel. Pertempuran raksasa ini soal perebutan Infinity Stones antara para superhero dan villain terkuat sejagat raya, Thanos. Sesuai dengan sebutan ensemble superhero, film ini menampilkan berbagai macam karakter yang dimiliki MCU.


Sejak awal film, lo udah disuguhkan berbagai cerita dari tiap-tiap superhero yang terbagi dalam beberapa tim. Semua ceritanya dijahit apik oleh sutradara Russo Bersaudara dengan sebegitu cerdasnya. Dari awal sampai akhir, cerita dijelaskan dengan teratur. Bahkan, lo bisa menilai bahwa duo sutradara tersebut bikin film layaknya seorang perfeksionis.






Semua diceritakan begitu mendetail. Bahkan, buat lo yang bukan penggemar film-film Marvel pun masih bisa sedikit ngikutin ceritanya. Memang, sih, lebih baik lo nonton film-film sebelumnya biar enggak bingung di tengah film.


Lo bisa lihat totalitas Russo Bersaudara dalam menggarap cerita, peran para aktor dan aktris, serta visual. Semuanya memanjakan mata. Seakan film ini jadi percobaan Marvel. Mereka bikin film superhero ini secara out of the box. Keluar dari jalur tren film superhero saat ini sekaligus menciptakan trennya sendiri.


Sosok superhero dan villain dibuat seimbang. Berbeda dengan film-film tema pahlawan kebanyakan, Russo Brothers menempatkan perspektif villain di Avengers: Infinity War lebih mengena. Bisa dibilang, lo bakal dibawa dalam perspektif Thanos.


Biasanya, superhero itu udah dipastikan menang. Namun, film ini seakan penuh keadilan: cerita dan perasaan. Porsi superhero dan villain dibikin adil. Saking adilnya, lo enggak tahu harus perhatiin ke siapa. Perasaan lo bakal dibikin campur aduk. Bahkan, pas lo keluar bioskop.


Unsur komedi Avengers: Infinity War enggak perlu ditanya, lo bakal dibawa terpingkal-pingkal di awal film. Namun, seakan enggak dikasih kendor, perasaan lo langsung dibuat bergejolak dengan aksi-aksi yang ditampilkan. Setelah itu, lo bakal dibuat sedih. Mirip perasaan “sakit tapi enggak berdarah” ketika semua teori terjawab.


Enggak hanya plot, visual yang ditampilkan Marvel memang terkenal juara. Mata lo bakal dibuat berbinar lihat detail dan efek visualnya. Tampilan yang mengundang nostalgia ini memanjakan mata sepanjang film. Kalau lo perhatiin, Russo Bersaudara ngasih campuran atmosfer Marvel, semesta Lord of the Rings dan Harry PotterSaga.




Buat lo pencinta film superhero, rasanya udah lama enggak sebahagia, seantusias, dan sesedih ini gara-gara Avengers: Infinity War. Bisa dibilang, buat pencinta Marvel, lo bakal punya perasaan yang sama setelah nonton film ini. FYI, Avengers: Infinity War terbagi dalam dua bagian. Jadi, kalau ada perasaan "kentang" di akhir film, wajar. Lo pun harus nunggu satu tahun lagi buat dapat jawabannya.



Enggak bisa dipungkiri bahwa film ini mahal dan nyaris sempurna. Harga tersebut dikeluarkan Marvel demi film luar biasa ini. Semua elemen berpadu harmonis tanpa harus kehilangan identitasnya. Tiap karakter ngasih kesan masing-masing di hati penonton. Bahkan, pada akhir hayat mereka.


Soal akting para pemeran, semua masih pada jalurnya. Semua jadi man of the match sesuai porsinya. Semua juga punya kejutan yang bakal disampaikan ke penonton. Namun, masing-masing karakter seakan kurang digali. Bisa jadi karena film ini hanyalah pertunjukkan massal (Infinity Overload). Layaknya panggung sirkus, semua tampil dengan porsi yang sama.

Hanya satu yang sedikit mengecewakan saya yaitu kurangnya kerja sama/kombinasi perang antar hero di wakanda, Seperti yang kita tahu bahwa kombinasi antar-hero di film-film Avengers sebelumnya adalah salah satu adegan terfavorit.


Terlepas dari itu, film ini berhasil disampaikan Marvel dan Russo Bersaudara dalam sudut yang berbeda. Secara keseluruhan, Avengers: Infinity War enggak melampaui harapan, tapi sesuai dengan harapan. 


Lo bisa ajak teman-teman dan keluarga lo buat nonton film ini, khususnya buat mereka yang “Marvel banget”. Seru-seruan sambil nostalgia sekaligus merayakan 10 tahun Marvel berkarya di semesta. Namun, ajak orang-orang yang sesuai rating film, yaitu PG-13, ya! Lo enggak mau, ‘kan, terganggu dengan mereka yang berisik di tengah keseruan filmnya?

*And Jangan lupa buat gak buru2 kluar dari bioskop ya guys, cos ada 1 adegan  di post-credit yang bakal bikin lo tepuk tangan.











Komentar dari Para Kritikus Film Dunia:

“Easily the best Marvel movie ever made, this is also shaping up to be one of the great blockbusters of the 21st-century.”James Mottram (South China Morning Post)
“It took us 19 movies over a span of 11 years to finally reach this destination. The end result? “Infinity War” is just too much of everything.”Jordan Ruimy (World of Reel)
“Buckle up, folks, because this is the movie Marvel has been building toward for a decade, and it’s astonishing.”Sean P. Means (Salt Lake Tribune)
“It’s too much. Too many characters, too much action, too much everything. It’s a superhero surplus with too many heroes and not enough screen. It’s Infinity overload.”Adam Graham (Detroit News)
“Sitting through its 2 hours and 30 minutes is like gorging on tapas: You wind up both overstuffed and unsatisfied.”Sam Adams (Slate)

“Even by Marvel’s own standards of serviceable mediocrity, Infinity War fails.”John Semley (Globe and Mail)
“Infinity War is big, blustery and brave, taking viewers to places that they may not be used to going.”Michael O’Sullivan (Washington Post)
“Infinity War is a wildly ambitious and entertaining ride in which good old fashioned team work just about carries the day.”Geoffrey Macnab (Independent (UK))
“The cliffhanger climax of Infinity War left the audience at my screening in a state that I can only describe with the most tired of critical clichés: They were stunned.”Alan Scherstuhl (Village Voice)
“Throughout the film, rapidity of dialogue and drama is mistaken for actual rhythm, of which directors Anthony and Joe Russo have one mode: pedal-to-the-metal pandemonium.”Keith Uhlich (Slant Magazine)
“It pays off the emotional investment movie audiences have been making in these characters for years, sometimes in genuinely heart-wrenching ways.”Bryan Bishop (The Verge)
“For the first time in a while, I can’t wait to see what happens next.”Alex Abad-Santos (Vox)
#Thanos bilang kalo uda nonton gak bole spoiler ni guys..

A post shared by Marvel Entertainment (@marvel) on


# Special Thanks juga buat para pembaca setia QQjoker.Movie, jujur saya sendiri uda capek bikin berita Avengers: Infinity War yg gak abis-abis. buat yg baru mau nonton, Enjoy :)


1 comment