(Review) Annihilation, Film Sci-fi Kelas Berat

No comments
QQjoker - Film terbaru Alex Garland, Annihilation adalah film scifi serius yang memakai samaran film thriller klasik yang sekarang banyak digunakan film thriller kelas B. Film ini dengan mudah memenuhi poin standar dari template film tersebut, tapi ia bukan Film Siapa Mati Berikutnya yang biasa. 



Memang ada monster, memang punya karakter yang siap dibantai, tapi ia tak bergantung pada ajang pembunuhan karakter. Di pusatnya, Annihilation membawa satu ide singuler yang mengajak penonton untuk mengeksplorasi topik yang relatif jauh dan kompleks hubungannya dengan premis tadi. 

Film ini lebih cocok jika dibandingkan dengan film scifi klasik Stalker karya sutradara Rusia Andrei Tarkovsky, yang fokusnya juga mengenai satu area khusus yang ditengarai terkena elemen ekstraterestrial. 

Dalam film Tarkovsky, di area tersebut ada satu ruangan yang bisa mengabulkan hasrat terdalam manusia. Annihilation merupakan film kedua Garland setelah debutnya yang impresif lewat Ex Machina, dan memang ia mengadaptasi dari novel berjudul sama karya Jeff VanderMeer. 

Namun barangkali Garland terlalu sering menonton Stalker lalu memutuskan bahwa ia punya ide sendiri mengenai apa yang terjadi disana dan bagaimana mereka mempengaruhi manusia. 



Dalam film Garland, area tersebut bernama "Shimmer". Setelah kejatuhan sesuatu seperti meteorit dari langit, area tersebut mengalami fenomena yang tak terjelaskan. 

BACA JUGA: Dapat 1,28 Milyar Tanpa Modal !!!

Ia dibatasi oleh dinding transparan yang berpendar seperti gelembung sabun, dan tak ada sinyal elektronik yang bisa masuk atau keluar dari dalam. Selama bertahun-tahun, beberapa tim sudah dikirim untuk mengamati apa yang terjadi disana, tapi tak ada yang pernah kembali. Ngerinya, area ini bertambah luas setiap hari. Pemerintah yang semakin waswas kemudian membangun sebuah unit observasi di batas terdekat dari "Shimmer" yang mereka sebut dengan "Area X". 

Namun Sersan Kane (Oscar Isaac) bisa pulang hidup-hidup, meski kondisinya tak lagi sama. Ia bukan satu-satunya, karena nanti Lena (Natalie Portman) juga berhasil pulang kembali. Saya tidak nge-spoiler. Sebab, film ini sendiri menggunakan kepulangan Lena yang diinterogasi oleh agen pemerintah sebagai alat untuk bercerita. 

Apa yang terjadi pada Lena? Kemana anggota timnya? Dikarenakan ketidaktahuan, agen pemerintah ini berjaga-jaga dengan memakai baju pelindung hazmat selagi mengorek informasi dari Lena. 

Anggota tim yang dikirim bersama Lena adalah psikologis Dr Ventress (Jennifer Jason Leigh), paramedis Anya (Gina Rodriguez), fisikawan Josie (Tessa Thompson), dan antropologis Cass (Tuva Novotny). 

Semuanya memang dari kalangan non-tentara, kecuali Lena yang adalah mantan tentara tapi sekarang menjadi dosen biologi. Jika tak ada tentara yang bisa pulang hidup-hidup, kenapa tak mengirim ilmuwan— logika yang mantap djiwa. 

Ada banyak pertanyaan logis lain yang mungkin muncul di benak anda, seperti kenapa tak ada tentara yang mendampingi mereka masuk ke area seberbahaya itu atau kenapa mereka dikasih senapan yang terlalu besar untuk ukuran akademisi (kalau boleh jujur, untuk semua manusia normal). Namun, itu adalah hal-hal yang takkan kita bahas sekarang. 

Yang jelas mereka punya motif masing-masing untuk masuk kesana. Bagi Lena, ini sangat personal karena Sersan Kane adalah suaminya—sang suami setahun tak pulang-pulang, eeeh pas pulang lebih sering bengong dan muntah darah. Mereka secara sukarela menjalani misi yang bisa dibilang misi bunuh diri ini, dan soal kenapa mereka melakukannya ternyata ada hubungannya dengan tema film. 




Garland juga menggunakan petunjuk visual yang mirip dengan Stalker. Gambar di luar "Shimmer" dibuatnya dalam skema warna yang pucat, sementara setelah masuk ke dalam "Shimmer", gambar berubah menjadi cerah dengan kontras tinggi. Pemandangan di dalam lebih seperti seperti hutan tropis yang rimbun. Yang aneh cuma sedikit sih; tak banyak, cuma sekedar buaya raksasa bertaring hiu atau beruang mutan saja. Oh, ada tanaman yang tumbuh seperti siluet manusia juga sih, tapi tak seseru diceritakan kepada anda seperti yang dua tadi. 

Bagaimana cerita bermain sudah memberitahu kita bahwa film ini bukan film monster-monsteran. Tim kita dengan (((ppeerrllaahhaann))) berusaha menyelidiki apa sebenarnya penyebab mutasi organisme di dalam "Shimmer". Apakah tim sebelumnya dibantai oleh hewan mutan ini atau malah saling bantai saking stresnya sama kondisi di dalam "Shimmer"? Suspensnya bukan lagi karena monster bisa tiba-tiba membantai karakter kita, atau bahkan juga bukan twist di akhir film. 

Alih-alih, ide singuler, yang tadi saya bilang, yang memancing kita untuk berkontemplasi mengenai hakikat identitas organisme. Jika menjelaskannya terlalu jauh, maka tidak asyik lagi bagi anda. Namun saya bisa bilang bahwa meski terlihat berbahaya, "Shimmer" sama sekali tak bermaksud untuk meng-annihilate bumi. Sel dari organisme sudah punya tendensi self-destructive. Ini bisa bibit kehancuran atau juga cikal penyelamatan bumi. 

Film ini punya salah satu adegan paling WTF yang pernah saya dapati dari film scifi sejak Under the Skin-nya Jonathan Glazer. Di bagian akhir, Lena berhadapan dengan entitas yang bisa diasumsikan penyebab ini semua. Entitas tersebut bersemayan di sebuah mercusuar, tempat meteorit mendarat yang kita lihat di bagian pembuka film. Bagian ini sedikit mengingatkan kita pada paruh akhir dari 2001: A Space Odyssey-nya Stanley Kubrick; Lena dan entitas ini terlibat dalam suatu konfrontasi absurd yang tanpa dialog selama hampir setengah jam. 

Film kemudian ditutup dengan ending ambigu yang bakal memancing penonton untuk berspekulasi tapi di lain sisi juga memberi resolusi yang konklusif. Ini karena filmnya sukses dibuat berdiri sendiri dan punya konsep yang tuntas. Padahal, materi sumber film merupakan bagian pertama dari trilogi yang disebut VanderMeer sebagai Southern Reach Trilogy. Garland sudah memastikan bahwa takkan ada kelanjutan setelah Annihilation. Skrip ini bahkan sudah ditulisnya sebelum 2 buku sisanya dirilis. Ia sepertinya hanya mengambil konsep dasar dari novel untuk kemudian dikemas demi menyampaikan ide sendiri. Menceritakan lebih banyak hanya akan mencederai ide tersebut. 


Related image

Ada kabar yang menyebutkan bahwa studio Paramount memutuskan untuk menjual hak edar internasional Annihilation kepada Netflix, gara-gara filmnya "terlalu intelek" buat penonton. Di film yang lebih receh, konsep seperti Annihilation bisa berakhir menjadi tiruan film Alien atau The Thing. Namun kita tidak butuh itu, karena film-film tersebut sudah melakukannya lebih baik. Kata yang lebih tepat agaknya "tak cukup seru", karena memang filmnya begitu; ia tak bekerja di level emosional, jadi flashback mengenai masa lalu Lena terasa cukup menganggu. Tak ada film yang "terlalu intelek" untuk penonton atentif. 






www.QQjokerPage.com | Comp Profile



No comments

Post a Comment