(Review) Solo: A Star Wars Story

No comments
Sebuah Prekuel Film Waralaba Star Wars dari George Lucas.



PLOT: Seorang pemuda bernama Han Solo (Alden Ehrenreich) bergabung dengan seklompok penyelundup, yang dipimpin oleh Beckett (Woody Harrelson), mengutus dirinya dan teman barunya, Chewbacca, menjalani sebuah misi berbahaya melawan penjahat terkuat di galaksi.


REVIEW: SOLO: A STAR WARS STORY hadir ke layar lebar dalam situasi yang tidak jauh berbeda dengan spin-off saga terakhir, ROGUE ONE. Kisruh dibelakang layar juga terjadi dalam proses pembuatan film, dimana Ron Howard mengambil alih di saat-saat terakhir, menggantikan Phil Lord dan Christoper Miller (yang tetap mendapat kredit sebagai produser eksekutif, sementara Ron Howard dikreditkan sebagai sutradara tunggal). Dalam hal ini, produk akhir bisa dibilang sebagai milik Howard, karena memang terasa seperti salah satu film arahannya, sebuah hasil yang cakap dengan beberapa momen penuh inspirasi, meskipun kemungkinan besar tidak akan mencengangkan dunia.

  Screenshot_165.png

Banyak yang mempertanyakan apakah cerita origin Han Solo layak dituangkan menjadi sebuah film dan setelah menonton film ini saya tidak sepenuhnya yakin akan hal itu, meskipun secara keseluruhan film ini cukup menyenangkan. Salah satu alasannya karena kemiripan tema dengan GUARDIANS OF THE GALAXY, yang dilakukan dengan cara baru yang lebih fresh, sementara faktor lainnya yakni casting dari pemeran utama. Sangat sulit untuk memerankan seseorang yang mampu mengingatkan anda terhadap Harrison Ford, karena karakter Han Solo sangat ikonik dan hal itu tentu tidak membantu Alden Ehrenreich sama sekali. Dia adalah aktor yang berbakat, tetapi dia memiliki energi yang sepenuhnya berbeda dengan Ford. Alden tidak buruk dalam perannya, namun tidak mampu meyakinkan saya sama sekali sebagai penonton bahwa dirinya memainkan karakter yang sama dengan karakter yang diperankan Ford.

Selain Han Solo, pemeran karakter lainnya bisa dibilang sangat bagus. Sangat memuaskan bisa melihat Chewie turut menjadi fokus dari film ini, dimana ikatan antara dirinya dan Solo mendapatkan build-up yang menarik. Seperti kebanyakan orang, saya juga terkesan dengan Ronald Glover yang memerankan Lando. Berbeda dengan Ehrenreich sebagai Ford, Glover cukup meyakinkan untuk mengisi peran Billy Dee William, dirinya melakukan pekerjaan hebat dalam menggambarkan kisah asli Lando.

Woody Harrelson juga memiliki peran yang bagus sebagai Beckett, pencuri yang mengasuh Solo muda dibawah sayapnya dan mengajarkan cara kerja mereka. Harrelson tampak menikmati perannya dan selalu menguasai layar setiap dirinya tampil. Chemistry-nya dengan Thandie Newton, yang berperan sebagai minat asmaranya, juga solid. Seperti Harrelson, Emilia Clarke juga beruntung karena memerankan sebuah karakter origin, sebagai minat asmara Solo, sesama pelarian Corellian. Dirinya jauh lebih baik di film ini ketimbang peran utama lain diluar "Game of Thrones". Paul Bettany juga mampu memerankan peran antagonisnya dengan baik, sementara "Fleabag" yang diperankan Phoebe Waller-Bridge cukup mencuri perhatian sebagai droid asmara Lando.
  Screenshot_166.png

Hal menarik lainnya tentang SOLO yaitu fakta bahwa kredit untuk bagian teknologi menampilkan beberapa tambahan baru untuk franchise Star Wars, dimana John Powell berkontribusi tinggi terhadap tema yang dibawakan John William, sementara sinematografi Bradford Young cocok dengan nada gelap dari film ini. Menonton dengan proyeksi yang kurang ideal akan membuat beberapa bagian action di film ini tidak terbaca. Young membuat film yang indah, namun membutuhkan presentasi sempurna.

Sekali lagi, SOLO tidak akan membuat para penggemar berdecak kagum, meskipun kebanyakan dari mereka tidak menaruh ekspektasi tinggi, namun kebanyakan dari karakter yang tampil cukup menghibur. Film ini dibuat dengan baik, dan Howard menyatukan semuanya dengan baik pula. Ehrenreich tidak akan membuat para penonton melupakan Harrison Ford, namun sebagai tambahan baru untuk Star Wars saga, ia melakukan tugasnya dengan baik.


No comments

Post a Comment