Margot Robbie dan Saoirse Ronan Hanya Bertemu Sekali Saat Syuting

No comments
Pertama kalinya Saoirse Ronan dan Margot Robbie bertemu di set film Mary Queen of Scots, keduanya duduk di lantai, saling menangisi satu sama lain.



Itu adalah hari pertama Ronan sebagai pemegang gelar Ratu, sedangkan menjadi hari terakhir Margot sebagai sepupu sekaligus rivalnya, Elizabeth I. Kedua aktris itu terpisah selama latihan dan proses penyuntingan hingga saat itu; Robbie syuting di Inggris, sedangkan Ronan syuting di Skotlandia, dan atas permintaan keduanya, mereka tidak pernah bertemu dalam karakter sebelum satu-satunya adegan mereka bersama. "Kami benar-benar tidak ingin bertemu satu sama lain," kata Ronan. "Saya menyukai Margot dan ingin bersamanya, namun kami ingin itu (pertemuan itu) menjadi hal yang istimewa."

Namun, ketika saatnya tiba bagi mereka untuk melakukan konfrontasi antara kedua ratu, "Kami berdua menangis seperti orang bodoh." sahut Ronan kepada EW. "Kami hanya saling berpelukan, saling tidak mau melepaskan. Kami seperti" - dia menurunkan suaranya untuk memeragakan isak tangis mereka - "Huohooouuughh." Dia tertawa. " Saya tidak pernah mengalami hal seperti itu."

Lagipula, karakter asli yang diperankannya memang tidak pernah bertemu. Sejarawan percaya bahwa Queen of Scots dan the Virgin Queen tidak pernah bertemu, namun sutradara teater (yang pertama kali menyutradarai film) Josie Rourke terinspirasi dari drama abad ke-19 arahan Friedrich Schiller, Mary Stuart, dimana Mary dan Elizabeth bertatap muka di atas panggung. "Seluruh konsep dari film ini bagiku ada disekitar pertemuan itu," kata Rourke tentang drama bersejarah tersebut. "Kami benar-benar ingin memiliki adegan itu dalam versi kami, dimana kedua wanita ini saling memandang dan dihadapkan dengan pilihan mereka - pilihan pribadi mereka, pilihan politik mereka. Itu menjadi momen yang sangat personal."



Dan sangat emosional. Isak tangis yang membanjiri set film mungkin disebabkan oleh pentingnya adegan (dan keseruan) yang menangkap satu-satunya waktu dimana kedua bintang itu berbagi layar, namun Robbie berpikir air mata itu juga berasal dari seberapa dalam mereka menggali sejarah tragedi dari karakter mereka masing-masing. (Bagi Elizabeth: Ibunya dipenggal oleh ayahnya. Bagi Mary: Dia kehilangan suaminya sebelum dia berusia 18 tahun. Dan keduanya sering menjadi sasaran dari kelompok agama tertentu, konspirator politik, dan perjanjian pernikahan). "Saya sempat menganggap remeh betapa sulitnya kehidupan mereka, dan seberapa besar rasa sakit yang terbungkus dalam kekuasaan ini," ujar Robbie. "Saya kira itu lebih berarti."
Berdasarkan pada biografi Mary tahun 2004 oleh John Guy, film ini (ditulis oleh creator House of Cards, Beau Willimon) bercerita tentang para penguasa di abad ke-16 selama 7 tahun ketika Mary yang merupakan seorang janda kembali ke Skotlandia dengan harapan merebut tahtanya kembali dari Elizabeth. Meskipun Elizabeth - spoiler alert ! - yang kemudian memerintahkan Mary untuk dipenjara dan dieksekusi, Robbie tidak pernah menganggap keduanya sebagai musuh abadi. "Mereka memiliki ikatan persaudaraan ini, rasa cinta satu sama lain, namun cinta itu rumit atas dasar fakta bahwa kelangsungan hidup yang satu mengancam yang lainnya," ia menjelaskan. "Ini adalah kisah cinta antara kedua karakter ini. Kisah cinta yang sangat, sangat rumit."



Mungkin itulah kenapa Rourke merasa lebih mudah untuk menjelaskan hubungan antara Mary dan Elizabeth di film ini dalam cerita fiktif klasik, atau bahkan istilah komik. "Jika anda melakukan Sherlock Holmes dan Moriarty, anda menghabiskan waktu dengan Holmes, dan jika anda melakukan Batman dan The Joker, anda cenderung (simpatik) dengan Batman, tetapi untuk menguatkan alur cerita, sang protagonis terkurung dalam psikodrama yang luar biasa dengan karakter yang mirip dengannya namun juga sebaliknya," ujarnya. " Apa yang benar-benar ingin saya lakukan adalah sebuah film dimana dua wanita bisa melakukan itu."

Tunggu dulu - apakah itu berarti Elizabeth adalah penjahatnya, mirip dengan seorang psikopat dengan makeup badut yang hanya ingin melihat dunia dalam kekacauan? Makeup tebalnya memang ada, tapi Mary Queen of Scots bukanlah tentang satu ratu mengalahkan ratu yg lain; ini lebih tentang bagaimana mereka bergulat dengan keadaan sekitar - konselor yang manipulatif, pengadilan yang didominasi pria - diluar kendali mereka. "Ini adalah film tentang apa yang harus direlakan demi kekuasaan, tentang seberapa seringnya hal yang tidak mungkin bagi wanita, terlepas dari pilihan mereka, agar bisa memimpin," sahut Rourke. "Film ini meminta kita untuk berpikir keras dan mendalam tentang hal itu sambil melihat bagian dari sejarah kami." Pastinya jangan lupa untuk membawa banyak tisu.



Mary Queen of Scots siap tayang di bioskop kesayangan Anda pada tanggal 7 Desember 2018.


Grup FB: Komunitas Movie Indo

No comments

Post a Comment