(Review) Blindspotting

No comments
BLINDSPOTTING secara efektif menyeimbangkan komedi antar sahabat dengan komentar sosial yang cerdik, memberikan kesenangan, kemarahan, dan keputus-asaan dalam takaran yang sama.

PLOT: Collin harus bisa melewati tiga hari terakhir dari masa percobaannya demi mendapatkan kesempatan untuk awal yang baru dalam lingkungannya di Oakland, California. Hubungannya dengan sahabat karibnya langsung mendapat ujian ketika Collin melihat seorang polisi menembak seorang tersangka dari belakang saat sedang terjadi kejar-kejaran. Semuanya mulai terkuak saat kedua sahabat itu menghadiri sebuah pesta di rumah megah milik seorang pengusaha teknologi muda dan kaya raya.

Daveed Diggs, seorang veteran dari kancah teater musikal, mulai naik daun setelah bergabung dengan Broadway terkenal HAMILTON sebagai Marquis de Lafayette dan Thomas Jefferson. Setelah meninggalkan Hamilton di tahun 2016, dia mulai beralih ke film dan televisi, mengambil peran dalam serial Netflix THE GET DOWN dan UNBREAKABLE KIMMY SCHIMDT, serta WONDER dan FERDINAND.

Kini, Diggs membuat debut penulisan treatrikalnya dalam Blindspotting, film dimana dia turut menjadi penulis naskah, sutradara sekaligus dibintangi bersama Rafael Casal. Diggs dan Casal bekerja sama dengan sutradara video musik dan film Carlos Lopez Estrada. BLINDSPOTTING secara efektif menyeimbangkan komedi antar sahabat dengan komentar sosial yang cerdik, memberikan kesenangan, kemarahan, dan keputus-asaan dalam takaran yang sama.



Dalam BLINDSPOTTING, Diggs berperan sebagai Collin, narapidana yang segera mengakhiri masa percobaannya, bekerja dan bergaul bersama sahabat dari masa kecilnya, Miles (Casal), di rumah mereka di Oakland, California. Dengan masa percobaannya yang tinggal dua hari lagi, Collin berhenti di lampu merah, mencoba untuk pulang ke rumah sebelum jam malamnya, ketika seorang pria kulit hitam berlari didepan truknya, lalu melanjutkan perjalanan.

Seorang polisi Oakland Molina (Ethan Embry) mengejar pria itu dan berhenti tepat disebelah truk Collin, menembak pria itu empat kali, membunuhnya. Collin lalu dipinggirkan oleh polisi lain yang tiba di tempat kejadian, dan dia mencoba untuk melupakan pembunuhan itu.

Collin dan Miles bekerja di sebuah perusahaan jasa pindahan yang diberikan oleh mantan pacar Collin, Val (Janina Gavankar) saat dia baru dibebaskan dari penjara. Keduanya sadar adanya peningkatan SDM disekitar mereka di Oakland, dan reaksi Miles sebagian besar dalam kemarahan, bertindak melawan hipster, membeli senjata, dan memulai perkelahian. Sementara Collin mencoba mempertahankan hubungannya dengan Miles dan bagaimana dia harus mengekspresikan dirinya secara berbeda dari sahabatnya karena bagaimana keduanya dipersepsikan berdasarkan warna kulit mereka.



Dari semua hal yang menjadi beban pikiran Collin, yakni dari menyelesaikan masa percobaannya dan menghindari nasib yang sama seperti orang yang dilihatnya ditembak mati oleh polisi, dan ketegangan yang semakin meningkat antara dirinya dan Miles, sesuatu yang buruk tampaknya segera terjadi - dan tidak jelas apakah dia atau hubungannya dengan Miles bisa bertahan.

Jika dilihat sekilas, BLINDSPOTTING adalah bagian dari media yang menekankan masalah kekerasan polisi terhadap orang kulit berwarna - orang kulit hitam, khususnya. Tapi, dengan mengabaikan aspek lainnya - hubungan Collin dengan Miles, penahanan dan masa percobaan Collin sendiri - mengartikan istilah dari judul film blindspotting, yakni melihat hanya dari satu sudut pandang ketika masih ada lebih banyak makna dari apa yang Anda lihat.

BLINDSPOTTING mendalami kehidupan Collin yang disusun secara hati-hati dan bagaimana setiap aspek bersilangan dengan pengalamannya dan dipengaruhi oleh peningkatan SDM di kota kelahirannya dan dinamika antara komunitas yang terdiri dari berbagai ras dan tugas polisi dalam melindungi mereka.



BLINDSPOTTING sebetulnya bisa saja memfokuskan hanya pada drama dari kebimbangan Collin - keputusasaan, kemarahan, dan emosi lainnya akibat masa percobaannya dan trauma setelah menyaksikan seorang polisi kulit putih membunuh seorang pria kulit hitam - namun film ini justru mengincar keseimbangan dengan humor dan komedi yang liar. Keseimbangan itu membuat BLINDSPOTTING terasa lebih nyata, karena sering kita menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari; hidup bukan hanya keputusasaan dan kemarahan, sebaliknya bukan hanya humor dan komedi.

Keseimbangan itu sangat terasa dalam BLINDSPOTTING berkat karakter Diggs dan Casal, dengan naskah yang menyisipkan syair dan slang secara kasual sekaligus untuk efek dramatis. BLINDSPOTTING memiliki orisinalitas dalam dialog dan alur ceritanya yang membawa penonton langsung ke tengah-tengah Oakland dan penduduknya. Ditambah, Diggs dan Casal memberikan performa yang benar-benar menarik masing-masing sebagai Collin dan Miles, dimana hubungan antara keduanya menjadi inti dari film ini yang menghangatkan sekaligus menyayat hati.
BLINDSPOTTING juga lebih menonjol ketimbang film lainnya berkat penggunaan syairnya, musikalitas dan arahan dari Estrada. Sudah jelas sejak awal film bahwa syair dan penggunaan ritme adalah bagian inti dari karakter Collin, dan alat untuk menceritakannya digunakan dengan sangat baik dalam film untuk menggambarkan keadaan mentalnya dalam beberapa adegan penting. 

Kemudian, Estrada juga menunjukkan pengalamannya menyutradarai video musik untuk digunakan dalam satu adegan tertentu yang terlihat dan terasa seperti sebuah video musik, namun sangat pas dalam film ini. Estrada menambah dinamika kedalam film secara konstan, namun juga halus, memperkuat tema bahwa ada dua gambar dalam satu - satu yang memang dilihat oleh penonton, dan satu lagi membutuhkan kejelian penonton.

Arahan Estrada, ditambah dengan naskah Diggs dan Casal serta performa mereka, menambah kekayaan dan kehiduupan kedalam BLINDSPOTTING yang sangat dibutuhkan untuk sebuah film yang memiliki hubungan erat dengan kematian. Tentu saja, film ini juga didorong oleh penampilan solid dari pemain pendukungnya: Gavankar sebagai mantan pacar Collin, Val dan Jsamine Cephas jones sebagai pacar Miles, Ashley, keduanya menawarkan wawasan penting kedalam dinamika antara pria dan wanita di BLINDSPOTTING.



Adegan komedi dari film ini juga diperkuat oleh Tisah Campbell-Martin sebagai pemilik salon Mama Liz dan Utkarsh Ambudkar sebagai Rin, pria yang menjadi saksi dari alasan Collin masuk penjara. Terakhir performa Embry sebagai Polisi Molina sangat penting untuk karakter yang berinteraksi dengan Collin, dan memeri kedalaman ke BLINDSPOTTING.

Intinya, BLINDSPOTTING adalah film yang tepat di masanya dan penting dalam membahas topik kekerasan polisi khususnya terhadap orang kulit hitam yang tak  bersenjata, kesulitan mantan narapidana untuk kembali masuk ke tengah-tengah masyarakat, dan gentrifikasi - namun tidak pernah melenceng dari fakta bahwa film adalah hiburan dan bisa menyenangkan saat membahas masalah yang serius. Ini adalah cerita dari kehidupan Collin sebagai mantan napi di Oakland dan, dengan demikian, BLINDSPOTTING tidak pernah menjauh dari aspek-aspek yang lebih berat dalam pengalamannya, begitu juga saat-saat yang lebih ringan dan lebih menyenangkan.

Ini adalah komedi/drama yang sangat menarik hampir bagi semua orang, tetapi tentu ada orang yang berasal dari komunitas seperti Oakland dan mempunyai pengalaman seperti Collin dan Miles yang terasa seperti menonton diri sendiri - mungkin untuk pertama kalinya di layar lebar - di BLINDSPOTTING. Dan untuk memastikan, BLINDSPOTTING  memberi keadilan bagi komnunitas dan orang-orang itu.






No comments

Post a Comment