(Review) A Prayer Before Dawn

No comments
A Prayer Before Dawn terasa autentik, dan mungkin terlalu ganas bagi sebagian orang. Meskipun mengerikan dan melelahkan, ini adalah kisah yang mendalam, sangat kuat, dan menginspirasi.



PLOT: Billy More (Joe Cole) adalah seorang petinju muda pecandu narkoba asal Inggris, yang ditangkap di Thailand dan dijatuhi hukuman tiga tahun dalam penjara yang brutal. Disana, dia mempelajari Muay Thai sebagai cara untuk menaklukkan iblis dalam dirinya, dan berharap bisa mengembalikan hidupnya ke jalur yang benar.

REVIEW: A PRAYER BEFORE DAWN bisa dibuat dengan banyak cara yang berbeda, yang paling mudah tentu saja sebagai film action. Film ini juga dengan mudah bisa menjadi gabungan antara MIDNIGHT EXPRESS dan UNDISPUTED, tetapi sutradara Jean-Stéphane Sauvaire jelas punya sesuatu yang lebih berat. Dalam arahannya, kisah Billy yang sebenarnya (Billy Moore yang asli adalah seorang stuntman dalam RAMBO sebelum penangkapannya) diceritakan dengan cara yang lugas, tanpa glamor yang tidak mengagungkan si pemeran utama, meskipun secara keseluruhan menarik simpati kita.

Anda tidak akan ragu mengatakan bahwa Billy memang bersalah - faktanya, anda melihat dengan jelas bahwa dia tidak bersalah dan pantas menerima hukuman yang lebih ringan, meski begitu tinggal di penjara Thailand terbukti menjadi hal yang sangat berat bagi orang barat yang tidak tahu bahasa atau budaya setempat sama sekali.



Dalam versi Barat yang tipikal dari cerita ini, Billy biasanya berteman dengan seorang mentor yang bisa berbahasa Inggris, namun disini tidak. Billy kebanyakan menghabiskan waktunya sendiri, dan sebagian besar dialog disajikan dalam bahasa Thailand tanpa subtitle. Billy tidak mengerti apa yang mereka perbincangkan, begitu juga kita. Satu-satunya bantuan yang didapat Billy, pada awalnya, adalah romansanya dengan narapidana transeksual, Fame (Pornchanok Mabklang), yang mengelola semacam kantin, bisa berbahasa Inggris, dan menunjukkan rasa simpati kepadanya (dan kasih sayang).
Beberapa sipir penjara yang nakal juga bisa berbahasa Inggris, ingin memanfaatkan kecenderungan Billy melakukan kekerasan dan kebiasaannya yang tak terkendali sebagai cara untuk melenyapkan tahanan yang bermasalah, tetapi ini justru membuka alur cerita semacam penebusan, dimana pemeran utama bekerja lebih keras dari biasanya demi kesempatan kedua yang pantas didapatnya. 

Film ini dipastikan membuka jalur menjadi bintang bagi sang pemeran utama Joe Cole, yang lebih dikenal dari serial "Peaky Blinders" dan GREEN INFERNO. Dia menonjol dalam setiap adegan, seperti yang dilakukan Jack O'Connell dalam STARRED UP, dan dirinya sangat energetic, persis menggambarkan kebiasaan Billy yang temperamen.

Dia dihadapkan pada banyak gangguan, dipaksa untuk menyaksikan sebuah perkosaan, diancam dan lebih parahnya (geng yang terinfeksi HIV mengancam untuk menginfeksinya jika dia tidak membayar hutang narkobanya), dan tentu saha secara rutin dipukuli dengan Muay Thai.



Hal lain yang tidak biasa dari film semacam ini adalah kemampuan Muay Thai Billy selalu dijaga agar tetap masuk akal. Dia tidak selalu memenangkan pertarungan - faktanya, saya yakin dia lebih banyak kalah ketimbang menang. Ukuran tubuhnya membantu saat dirinya melawan petarung yang lebih kecil, tetapi menunjukkan tingkat kedisiplinannya dan persahabatannya dengan sesama petarung (penuh tato, baik hati - rupanya semua mantan narapidana) yang membantunya mengubah keadaan. 

Pertarungannya brutal dan kejam, termasuk satu yang paling mencolok di pertengahan film dimana semuanya diambil dengan satu kamera genggam dan tanpa cut, sebuah koreografi yang impresif.



Mengingat betapa tidak konvensionalnya film seperti ini, tidak mengherankan jika film ini termasuk salah satu yang hanya dirilis dalam VOD oleh A24, namun itu tidak menjadi indikasi dari kualitas film ini. FIlm ini cukup bagus untuk berkompetisi di Cannes 2017, dan ini adalah salah satu karya yang luar biasa, dan dipastikan meroketkan nama Cole. Film ini sungguh patut dicoba, mengerikan namun sekaligus tak terlupakan. 






No comments

Post a Comment