(Review) The Predator

No comments
Tiga puluh satu tahun sejak predator pertama memburu dalam hutan di Amerika Tengah, para penggemar akhirnya memiliki sekuel yang layak dengan The Predator.



PLOT: Penembak jitu militer (Boyd Holbrook) bertemu dengan predator dalam misinya yang berantakan dan harus dikurung agar tidak membocorkan penemuannya. Namun, tanpa sepengetahuan agen pemerintahan (Sterling K. Brown) yang terlibat dalam penyembunyiannya, dia sudah mengirimkan peralatan yang dicuri dari makhluk itu kepada keluarganya yang terasing dan ketika putranya (Jacob Tremblay) mengaktifkannya, sang predator datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.

REVIEW: THE PREDATOR adalah Shane Black secara keseluruhan. Dan menjadi keputusan tepat bahwa naskah film ini turut ditulis oleh rekannya dalam THE MONSTER SQUAD, Fred Dekker. Ini benar-benar terasa seperti gabungan antara produksi Dekker dari tahun 80-an, yang disaring lewat kepekaan dan pengetahuan Black, digabung dengan mitologi Predator, diaduk dengan cara yang menggairahkan bagi sebagian orang, dan tidak bisa diterima oleh sebagian orang lainnya.



Satu hal yang perlu diketahui sebelum menonton film ini adalah bahwa THE PREDATOR sangat berbeda dari semua film predator sebelumnya. Mereka tidak mencoba untuk meniru salah satu dari film sebelumnya, yang semuanya kerap menambahkan adegan humor, tetapi tetap serius. Yang ini tidak sama sekali. Faktanya, ini hampir menjadi film komedi, menjadikannya sebuah film radikal. Bayangkan IRON MAN 3 jika Black bisa membuat sejauh yang dia mau. Itulah yang akan Anda dapat dari THE PREDATOR, dan jika anda bersedia ikut serta sepanjang film, ada banyak kesenangan yang bisa didapat.

Film ini bisa dibilang sebagai yang paling 'berdarah' dalam seri sejauh ini, meskipun anehnya limpahan darah segar itu dilemahkan dengan nada komedi, membuatnya tampak lebih jinak daripada yang sebenarnya (tidak seperti DEADPOOL). Jika Anda menyukai sekelompok orang dari film aslinya, Anda tentu senang jika mengetahui bahwa Black mencoba untuk menciptakan grup ikoniknya sendiri - dan ini menjadi nilai plus terbesar dalam film.

Sesuai kebutuhan, pemeran utama Boyd Holbrook harus menjadi pahlawan yang lebih keji daripada Arnold dalam film originalnya dan dia cocok dengan peran itu, memainkan snipernya dengan rasa humor serta fisiknya yang ramping, namun dari aspek keluarga, meskipun sangat Shane Black, tidak selalu berjalan baik. Hubungannya dengan Jacob Tremblay, yang berperan sebagai putranya yang menderita Asperger, tidak menunjukkan kehangatan, dan itu bukan karena kesalahan para aktor, melainkan karena vibe-nya yang terlalu humoris sehingga sulit untuk membangun drama diantara keduanya.



Hubungan yang benar-benar membuat penonton turut peduli adalah antara anggota grup Holbrook, yang ditemuinya saat dibawa ke sebuah institut. Masing-masing dari mereka memiliki ciri khas tersendiri dan semuanya diperankan secara sempurna. Ada Trevante Rhodes sebagai seorang badass yang tidak takut mati, Thomas Jane sebagai orang gila yang menderita tourette, Keegan-Michael Key sebagai yang lucu, Alfie Allen sebagai orang yang lincah dan licik, dan Augusto Aguilera sebagai si religius garis keras.
Mereka menjadi sebuah grup yang menyenangkan, dimana Rhodes menyajikan potongan action yang sesungguhnya, sementara chemistry antara Jane dan Key sangat tepat sehinnga membuat Anda menginginkan mereka mendapatkan spinoff mereka sendiri. Terakhir, ada Olivia Munn sebagai anggota kru yang palaing membumi, satu-satunya ilmuwan yang setengah waras, dan Black memberinya banyak quote singkat yang penuh makna (hey - ini adalah film Shane Black - apa bagusnya jika tidak diisi dengan dialog yang dapat dikutip)



Mengingat banyaknya adegan lucu di film ini, Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana dengan action-nya, dan untuk sebagian besar itu cukup baik. Adegan kejar-kejaran dan saling tembak dilakukan dengan bagus, kemudian hubungan antara setiap karakter membuat semuanya lebih efektif sehingga Anda menginginkan semuanya tanpa terkecuali, untuk bertahan hidup.

Satu-satunya nilai minus bagi saya adalah ending-nya terasa tidak seimbang dengan keseluruhan film dan sepertinya telah diubah pada titik tertentu. Disini, ada karakter penting yang memiliki perubahan kepribadian total yang tidak sesuai - sebelum mereka benar-benar selesai sepenuhnya. Bagi saya, itu tidak masuk dengan sisa film.

Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa THE PREDATOR akan memecah belah penggemar, dimana beberapa mencintai ke-Shane Black-an dari film ini, sementara sisanya akan merengek bahwa film ini lebih terasa seperti parodi dari Franchise Predator daripada sebuah reboot/kelanjutan yang mereka harapkan. 



Dengan caranya sendiri, pendekatan Black terbilang original dan refreshing. Saya menikmatinya sepanjang film dan senang melihat pihak studio membiarkan Black membuat film sesuai keinginannya.



JM Instagram

No comments

Post a Comment