(Review) Bad Times at The El Royale

No comments
El Royale menampilkan visual yang sangat indah, didukung oleh sederet aktor papan atas, dan sebuah cerita yang meskipun agak berbelit-belit, namun membuat Anda penasaran serta mencoba untuk menyatukan seluruh potongan cerita itu. Tanpa diragukan ini adalah sebuah pembuatan film yang sangat hebat, mamun terasa sangat singkat.



PLOT: Pada suatu malam di tahun 1969, empat orang yang tidak saling kenal, seorang pastur (Jeff Bridges), seorang penyanyi (Cynthia Erivo), seorang salesman keliling (Jon Hamm), dan seorang wanita muda pemberontak (Dakota Johnson) memesan kamar di hotel El Royale, yang berada di perbatasan negara bagian Nevada dan California. Sebelum malam berlalu, keempat orang asing itu ternyata menyimpan sebuah rahasia yang berpotensi mematikan, dan penemuan mereka berpas-pasan dengan kedatangan seorang pemimpin aliran sesat (Chris Hemsworth) dan pengikutnya.




REVIEW: BAD TIMES AT THE EL ROYALE arahan Drew Goddard adalah sebuah film yang diam-diam dirilis 20th Century Fox. Sebagai studio yang segera menjadi milik Disney, film ini akan membuat Anda mengeluhkan kesepakatan itu karena sangat tidak mungkin film dengan anggaran sehat, dan jelas memiliki R-Rated seperti ini disetujui oleh Disney. Menjadi film kedua arahan Drew Goddard sebagai sutradara (meskipun dia banyak menulis film lainnya), seperti CABIN IN THE WOODS, film ini adalah sebuah karya yang sangat istimewa, stylish, novis epik yang membangkitkan kembali genre ini dan ditambah sejarah kehidupan nyata menjadikan ini sebuah film yang sudah jarang kita lihat.

Meskipun didukung oleh banyak aktor papan atas, bahkan tanpa menghitung aktor karakter seperti Nick Offerman dan Shea Whigham yang muncul di beberapa adegan ringan, BAD TIMES AT THE EL ROYALE secara keseluruhan menjadi panggung utama bagi Jeff Bridges dan pendatang baru Cynthia Erivo. Bridges memiliki peran besar sebagai pendeta yang tiba di El Royale karena alasan misterius dan sepertinya tidak sesuai dengan pekerjaannya. Tanpa menguak terlalu banyak, dia memiliki masa lalu yang penuh kekerasan yang akan kembali terangkat pada malam itu, menarik perhatian penyanyi polos Erivo kedalam lingkupnya.



Dalam perjalanan menuju Reno untuk sebuah pertunjukan tetapi tidak mampu menyewa kamar di tempat yang lebih mewah, Erivo curiga kepada hampir semua orang, tetapi juga menolak menjadi korban, pandai bersilat lidah dan tak ragu menggunakan botol whiskey sebagai senjata jika diperlukan. Dirinya jelas akan menjadi seorang bintang besar. Adapun pemeran lainnya, hampir semua orang berada di puncak penampilan mereka, dimana Dakota Johnson tampil sempurna sebagai seorang wanita misterius yang sedang dalam pelarian, sementara Jon Hamm sebagai salesman vacuum cleaner yang tampak terlalu jujur untuk pekerjaannya. Anda tentu berpikir dirinya menyembunyikan sesuatu.

Pada akhirnya semua akan tertuju sekitar Chris Hemsworth sebagai sosok yang seperti Charles Manson, yang datang ke hotel bersama keluarganya untuk menghadirkan malapetaka. Hemsworth dimaksudkan untuk menjadi tokoh yang sangat penting, tetapi anehnya banyak adegan menjelang akhir film justru dicuri oleh Lewis Pullman (putra Bill) sebagai pegawai hotel yang gugup, yang terus mengatakan kepada Bridges berulang kali bahwa dirinya telah melakukan banyak hal buruk.



Semuanya menjadikan film ini ibarat gabungan genre crime/action yang cantik dan Bridges tampaknya sangat menikmati perannya sebagai karakter keras yang mungkin akan dicoba oleh Lee Marvin dan Gene Hackman pada masa jayanya. Pilihan lagu dsini juga luar biasa, dengan jukebox yang dipenuhi lagu hit tahun 60an mendominasi soundtrack-nya. Anda akan menemukan banyak hal dari Deep Purple hingga Frankie Valli. Film ini berdurasi 140 menit, tetapi waktu terasa cepat, mungkin karena struktur episodik yang mirip gaya Tarantino, yang membuat film ini terus menyambung.

Meskipun BAD TIMES AT THE EL ROYALE mungkin tidak sesuai dengan selera semua orang, kami sendiri sangat menikmatinya dan tidak ragu untuk menyebut film ini sebagai salah satu film terbaik tahun ini.





No comments

Post a Comment