Cara Menghitung Pendapatan Film di Indonesia

No comments
Film Indonesia sedang berkembang, bahkan beberapa tahun terakhir, capaian jumlah penonton beberapa film Tanah Air berhasil menyentuh angka jutaan orang.



Namun tak seperti daftar Box Office di negara lain, di Indonesia publik baru bisa mengetahui sukses tidaknya sebuah film hanya dari jumlah penontonnya, tanpa dilangkapi data dari total pendapatan.


Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf pun mengungkap bahwa hanya ada perhitungan sederhana untuk bisa mengecek jumlah pendapatan sebuah produksi film di Indonesia.


"Pendapatan sudah bisa dicek dari angka jumlah penonton," kata Triawan dalam wawancara di sela acara Indonesia Film Business Outlook 2019 di Artotel, Jakarta Pusat, Kamis (13/9/2018).


Ia menjelaskan, produser mendapatkan jatah rata-rata Rp 15.000 untuk satu lembar tiket bioskop yang terjual. Angka itu itu kemudian dikalikan dengan jumlah penonton filmnya untuk memperoleh pendapatan dari film tersebut.


"Produser dapat Rp 15.000. Jadi kalau film seperti Warkop DKI yang 6,8 juta penontonnya, itu dikali Rp 15.000, berapa? Ratusan miliar kan," kata Triawan.


"Misalnya biaya shooting sekitar Rp 20 miliar, promosi Rp 10 miliar. Dapatnya berapa ratus miliar," tambahnya.


Angka tersebut menurut Triawan sudah masuk kategori luar biasa. Sebab, bukan untung satu atau dua persen, melainkan keuntungan berlipat-lipat kali.




"Tapi keuntungan itu bukan hanya dinikmati oleh produser film tapi daerah tempat mereka shooting, itu juga dapat keuntungan," ucap ayah dari penyanyi Sherina Munaf itu.


Ia memisalkan lokasi shooting film The Lord of the Rings di Selandia Baru. Saat ini area yang terkenal dengan nama Hobbiton itu menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di sana.


"Kemarin saya ke Wellington, New Zealand. Di tempat shooting itu tiap hari turisnya ratusan. Jadi multiplayer effect dari keuntungannya banyak sekali dari perfilman," kata Triawan.


"Jadi kalau semua film meledak, misalkan satu perusahaan film shooting lima film dalam setahun. Dua atau satu aja yang untung, itu sudah bisa menutup biaya produksi," tambahnya.


Perhitungan ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya memakai formula 20-40-40. Sebagai Contoh:

Mari kita Asumsikan jumlah penonton dari Film Habibie & Ainun adalah 4 juta penonton.. Lantas, jika penonton bioskop mencapai 4 juta berapa kira-kira yang dihasilkan produser dari film tersebut?




Mari berhitung, Tiket bioskop yang kita bayar untuk nonton sebuah film dibagi ke dalam tiga pos. Pemerintah mendapat 20 persen dari pajak tontonan; pemilik bioskop yang menayangkan film mendapat 40 persen; sedang produser yang sudah banting tulang bikin film dan memasarkannya juga mendapat jatah 40 persen.


Tiket bioskop berbeda-beda, tergantung lokasi dan waktu tayang (harga tiket akhir pekan lebih mahal dari hari biasa, misalnya). Tapi, jika dirata-rata produser mendapat Rp 10 ribu dari setiap tiket bioskop yang terjual. Sisanya untuk pajak dan pemilik bioskop sesuai hitungan di atas. (sebagai gambaran lain, sebuah situs membuat asumsi rata-rata perhitungan pendapatan kotor sebuah film pada 2016 adalah Rp 24 ribu/penonton.


Maka, jika dikatakan Habibie & Ainun ditonton 4 juta orang, kalikan saja dengan 10 ribu. Hasilnya Rp 40 miliar. Ya, kira-kira sejumlah itulah yang didapat MD Pictures milik Manoj Punjabi dari Habibie & Ainun.


Penghasilan itu bakal ditambah lagi dari hak siar ke TV dan DVD/VCD. Angkanya beda-beda. Tergantung dengan kualitas produknya.

Angka yang didapat dari TV bervariasi. Kalau filmnya dianggap bagus, bisa dijual hingga Rp 1 miliar atau lebih. Tapi bisa pula hanya laku Rp 500 juta. Angka itu tak berwujud uang semua. Biasanya, sekitar 30 persen dari angka itu berupa barter iklan (disaat film tayang dibioskop TV akan menyiarkan iklan atau promosi lain sebagai gantinya).

Jadi, jika membuat hitungan kasar dari Habibie & Ainun didapat hasil begini: Rp 40 miliar dari bioskop; Rp 1 miliar dari TV; dan Rp 500 juta dari DVD/VCD. Totalnya, produser dapat Rp 41,5 miliar. Jika kita berasumsi Habibie & Ainun dibuat sampai Rp 10 miliar, produser masih untung Rp 31,5 miliar.

Itu kalau penonton filmnya sampai jutaan orang yang hingga kini terbilang jarang bagi jagat film nasional. dan tentu sebaliknya Produser bisa merugi jika jumlah penonton tidak mencapai target tertentu.

No comments

Post a Comment