(Review) Suspiria

No comments
Suspiria adalah sebuah pengalaman mengerikan yang diceritakan dengan banyak semburan darah dan gerakan menyayat dari para penarinya, sebuah penyimpangan yang halus melalui beberapa gagasan meresahkan tentang gender, takdir, dan kejahatan yang menjadikan mereka sebagai abstraksi. Film ini menarik, pastinya, dan terkadang sangat luar biasa..tetapi tidak mengganggu seperti yang diharapkan.



PLOT: Ada sebuah sihir gelap yang menghantui sekolah dansa ternama Markos Dance Academy. Dan ketika seorang penari muda asal Amerika tiba disana, sihir itu mulai mengeluarkan mantranya sementara penari muda tersebut mulai tergoda untuk mencari tahu apa yang selama ini bersembunyi jauh didalam dinding itu.

REVIEW: Sinema bisa memberikan banyak hal kepada penonton yang mau ikut terbawa kedalamnya. Film bisa menawarkan kisah cinta yang menarik, drama yang kuat atau bahkan film action menyenangkan yang memungkinkan Anda untuk menyerap semuanya tanpa perlu berpikir terlalu banyak. Dan kemudian juga ada tren saat ini yang disebut "art house horror". Entah itu sejarah keluarga yang gelap dan mengganggu seperti HEREDITARY, atau hubungan dengan penciptaan yang benar-benar gila seperti MOTHER!, ada gelombang genre baru yang mulai masuk kedalam mainstream. Kali ini ada remake kisah berdarah para penyihir di sekolah tari arahan Dario Argento yang berjudul SUSPIRIA. Tidak seperti kebanyakan remake, film arahan Luca Guadagnino ini mengambil sudut pandang yang sama sekali berbeda, namun tetap berada dalam dunia yang diciptakan Argenta dan Daria Nicolodi pada tahun 1977 itu.

Kecurigaan mulai menghinggap pada sebuah akademi tari yang terkenal, namun misterius, setelah seorang siswi muda bernama Patricia (Chloë Grace Moretz) menghilang. Situasi semakin gelap ketika seorang siswi muda asal Amerika tiba untuk pelatihan. Bagi Susie Bannion (Dakota Johnson), kesempatan untuk dilatih oleh Madame Blanc yang legendaris (Tilda Swinton dalam salah satu dari tiga peran) ibarat mimpi yang menjadi kenyataan. Namun, seiring Susie yang jatuh kedalam mantra guru-gurunya, temannya Sara (Mia Goth) mulai ketakutan bahwa rumor tentang sihir dan hal-hal gaib lainnya memang benar adanya. Kemudian, Dr. Josef Klemperer (Tilda Swinton) - dokter psikiatris yang merawat Patricia - mulai menemukan kejadian aneh dan rahasia yang tersembunyi dibalik dinding Markos Dance Academy.



Guadagnino memilih pendekatan yang terbilang unik dengan materi yang ada. Ketimbang mencoba untuk menciptakan kembali warna-warna luar biasa dan musik yang bombastis, ia menciptakan apa yang bisa kita sebut sebagai dunia alternatif dari film pertama. Seperti THE THING arahan John Carpenter atau bahkan THE FLY karya David Cronenberg, sang sutradara berhasil menciptakan sesuatu yang baru dari apa yang sudah kita tahu. Versinya juga berada pada 1977, dan menambah elemen politik kedalamnya. Ini jelas membantu, terutama ketika menyangkut hilangnya Patricia. Salah satu adegan melibatkan beberapa detektif yang dikirim ke sekolah untuk menyelidiki kasus itu mungkin akan tidak nyaman bagi kebanyakan pria di bangku penonton, tetapi justru menambah nilai tersendiri terhadap sihir menyeramkan yang terserap di sepanjang film.

Dengan durasi dua setengah jam, film ini menekankan satu hal penting yang hanya disinggung secara singkat di film pertama. Difilm ini, tarian itu sendiri sama pentingnya bagi Susie dan hubungannya dengan Madame Blanc begitu juga dengan sihir gelap yang terjadi. Dikoreografi oleh Damien Jalet, gerakan dan tariannya benar-benar indah, namun sekaligus menyeramkan secara visual. Satu adegan memperlihatkan seorang murid yang kesakitan sungguh berat untuk ditonton, namun kita tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Tampilan film ini nyaris sempurna menyerupai film pertama. Faktanya, warna yang diredam dan visual dingin yang terpampang dengan kinerja kamera membuat karya ini tampak seperti dari masa lalu. Selain itu, efeknya juga terlihat praktis, dan bisa dikatakan bahwa menonton Tilda Swinton mengambil peran seorang pria tua dengan tubuh prostetik layak mendapatkan nominasi di Academy Award. Ini bukan hanya cerita yang diambil pada masa lalu, tetapi terasa seperti kisah puluhan tahun lalu yang diungkap kepada khalayak modern saat ini.



Performa para pemeran juga bagus, namun sulit untuk mengabaikan Tilda Swinton begitu saja. Dengan memainkan tiga peran, bakat luar biasa ini merangkul setiap elemen dari masing-masing karakter. Selain sangat efektif sebagai Helena Markos, perannya sebagai Madame Blanc dan terutama Dr. Josef Klemperer-lah yang sangat pantas disanjung. Sungguh disayangkan bahwa rahasia performa ini tidak disembunyikan karena sangat indah melihat dirinya menghilang sepenuhnya dibawah tubuh prostetik sebagai pria tua yang rapuh mencari kebenaran. Aktingnya disini sangat mencengangkan.

Meskipun Dakota Johnson cukup memuaskan dalam perannya sebagai Susie (diperankan oleh Jessica Harper di film aslinya, yang juga mendapatkan peran pendukung di film ini), pengambilan karakternya sangat berbeda. Dalam banyak hal, justru Sara yang diperankan oleh Mia Goth yang kita sebagai penonton merasa lebih terhubung. Goth sangat hebat sebagai penari yang mulai mencurigai adanya iblis dibalik dinding sekolah. Tambah itu semua dengan segudang aktris berbakat lainnya termasuk Angela Winkler, Sylvie Testud, Fabrizia Sacchi, dan Renée Soutendijk, dan Anda memiliki para wanita luar biasa yang merangkul kisah sihir ini.



SUSPIRIA adalah sebuah mahakarya. Namun, mungkin tidak bagi semua orang. Banyak yang akan merasa alurnya terlalu lambat, dan yang lain mungkin tidak akan terjatuh dalam mantranya yang mengganggu. Seberapa banyak film in akan mempengaruhi penonton, tidak perlu diragukan bahwa tempo lamban yang disengaja dan adegan akhir yang aneh akan membuat frustrasi, membosankan dan mengganggu beberapa penonton. Sementara lainnya akan langsung tertarik kedalam pengalaman menyeramkan ini. 

Film ini adalah perpaduan yang luar biasa antara visual yang aneh, cantik, kejutan, dan horor, dengan musik yang menghantui dari Radiohead Thom Yorke. Ini bukan film ringan dan tentu saja tidak untuk semua orang. Namun pada intinya, ini adalah pengalaman epik bagi siapapun yang mau mengikuti perjalanannya. Meskipun saya ragu untuk menyebut film horor ini sebagai fantasi yang gelap dan jahat, tetapi tentu tidak akan terlupakan karena ini adalah yang pertama kalinya.



No comments

Post a Comment