(Review) Mortal Engines

No comments
Untuk sebuah cerita yang berkisar diantara kota-kota bermesin raksasa, kapal terbang, dan robot-robot steampunk, Mortal Engine akan sulit untuk dilupakan. Ini adalah salah satu film dengan serangkaian adegan action terbaik, terkadang sulit untuk dipercaya namun mampu dihidupkan dengan detail yang mendebarkan. Ini akan menjadi standar yang tinggi bagi "Mortal Engine" selanjutnya, berdasarkan novel karya Philip Reeve, dan film ini berhasil menjaga rasa penasaran itu selama lebih dari dua jam. Anda mungkin mengenali beberapa kemiripan dalam alur ceritanya, tetapi Anda pasti tidak akan pernah melihat dunia live-action seperti ini.



PLOT: “Mortal Engines” menceritakan kejadian 1000 tahun di masa depan, dimana kerak bumi mulai hancur akibat perang besar. Teknologi dari abad ke-21 digali oleh para arkeolog untuk mencari jawaban dan/atau sebagai persenjataan canggih. "Kota predator" menjelajahi daratan layaknya bajak laut, melahap kota kecil, menyerap populasi mereka, menyerbu gadget kuno mereka dan mengubahnya menjadi bahan bakar.

REVIEW: Anda dipastikan belum pernah melihat adegan kejar-kejaran seperti yang terlihat dalam adegan awal "Mortal Engines": Seorang wanita muda memindai cakrawala dan melihat London, seluruh kotanya, berguling ke arahnya di atas tapak tank raksasa. Dia bergegas ke kota lain yang lebih kecil dan membunyikan alarm. Semua usaha dan kediaman tiba-tiba mengunci diri dan berlindung, dan kota kecil itu berguling dalam kecepatan tinggi.

Dua kota raksasa kini saling berkejaran melintasi pedesaan, bergeser ke tepi jurang, sampai salah satu dari mereka memakan yang lain.

Satu-satunya respon yang rasional untuk "Mortal Engines" adalah "Wow!".



Hera Hilmar (“Da Vinci’s Demons”) mengisi peran utama sebagai Hester Shaw, seorang remaja dengan bekas luka di wajahnya yang mengincar balas dendam terhadap Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) ,figur penting dalam pemerintahan London. Setelah adegan kejar-kejaran yang disebutkan diatas tadi, Hester mencoba untuk membunuh Valentine tetapi dihentikan oleh Tom Natsworthy (Robert Sheehan, "Bad Samaritan"), seorang sejarawan muda yang mengejarnya di sepanjang kota yang dicabik-cabik oleh gergaji raksasa seukurang gedung.

Sialnya, Hester benar tentang Valentine, dan dia membuang kedua pahlawan muda itu ke dasar kota. Tetapi mereka selamat dan terbangun mengembara melalui tapak-tapak besar seperti jurang yang ditinggalkan London. Tom ingin pulang, Hester ingin membalas dendam dan Valentine tidak akan berhenti demi menjaga rahasianya (menghancurkan bumi).



Cerita "Mortal Engines" tidak se-original beberapa film lain dengan tema yang serupa. Tom dan Hester saling tidak suka satu sama lain, kemudian saling menghormati, hingga akhirnya muncul benih-benih cinta. Petualangan keduanya menuntun mereka melalui kiasan sci-fi/fantasi, seperti diculik dan dijual ke penawar tertinggi, dan berususan dengan karakter yang tampaknya jahat namun ternyata menjadi harapan terakhir umat manusia. Dibawah semua keajaiban steampunk ini, Anda bisa menemukan kemiripan cerita dengan "The Lords of the Rings" dan "Star Wars", dipotong-potong dan disusun kembali dengan cara yang sedikit berbeda.

Tetapi mustahil untuk mengeluh bahwa beberapa bagian "Mortal Engines" tampak familiar mengingat begitu banyak film yang baru dan menakjubkan. Christian Rivers, yang memenangkan Oscar untuk efek visual "King Kong" arahan Peter Jackson, melakukan debut penyutradaraan, dan dia mendapat kebebasan penuh. (Jackson berbagi kredit dalam film ini bersama kolaboratornya Fran Walsh dan Philippa Boyens). "Mortal Engines" tampaknya tidak pernah sekalipun terhalang oleh kekhawatiran dana atau kurangnya inspirasi. Dunia ini didesain secara intens, dengan detail yang mengesankan di hampir setiap adegan, tidak peduli seberapa singkatnya kita mengunjungi setiap lokasi. Pencahayaannya tajam; editannya penuh percaya diri. Setiap dolar yang dikeluarkan untuk film ini tampaknya berhasil terlihat di layar.



Dan di dalam film, ketika sampai pada inti ceritanya, ada penjahat yang menarik bernama Shrike (Stephen Lang), zombie cyborg yang ingin membunuh Hester karena melanggar janji misterius. Dia terlihat seperti Voldemort terjebak dalam blender dengan robot pembunuh dari "Hardware" arahan Richard Stanley, dan dia adalah mesin pembunuh yang tidak dapat dihentikan. Cara CGI menggerakkan makhluk ini, dengan ketenangan dan kecepatan yang mengerikan, memberikannya sebuah fisik yang unik. Dan kisahnya pada akhirnya mengungkap lebih banyak rasa sakit dan kesedihan.

Seolah-olah Dongeng Klasik "Mortal Engines" terasa seperti sesendok gula, sehingga bagian teraneh dari film inipun dapat diterima dengan lebih mudah. Dimana jaman sekarang banyak yang ragu untuk mengambil sebuah cerita film yang aneh dan beranggaran besar kecuali mereka adalah bagian dari waralaba besar sebelumnya (itupun masih sebuah pertaruhan) film seperti "Mortal Engine" sering kali harus berjuang untuk mendapatkan apresiasi dari penonton. 



Butuh waktu untuk Proyek seperti "Starship Troopers," "Dark City" dan "Speed Racer" untuk mendapatkan kredit karena melakukan apa yang "Mortal Engines" lakukan sekarang. Ini adalah dunia yang luar biasa dari kesenangan bergaya steampunk, hampir sempurna dalam presentasinya. Sulit untuk mengeluh tentang cerita yang sudah usang saat semua pemandangan yang disajikan membuat mata Anda terpana.



No comments

Post a Comment